Senin, 17 November 2008

Petani Sawit Riau Collaps

Petani Sawit Riau biarkan buah busuk di batang

Laporan: Idham firmantara

Sejak krisis keuangan Amerika semakin tak terkendali membuat puluhan ribu petani sawit di propinsi Riau Collaps. Jatuhnya harga Tandan Buah Segar (TBS) membuat biaya panen lebih tinggi dari harga jual TBS.

Selama ini, pohon sawit sangat menjadi primadona di berbagai kalangan untuk berinvestasi. Apalagi saat harga TBS sempat mencapai harga Rp 2000 perkilo dalam beberapa bulan terakhir, dan semakin meicu warga pemilik pemodal untuk berinvestasi kepada sector perkebunan sawit.

Ternyata masa-masa manis itu bertahan sebentar seiring datangnya krisis moneter yang melanda Negara Amerika. Para pengusaha CPO Amerika juga mengalami krisis keuangan yang parah dan selama ini merupakan pembeli tetap Crude Palm Oil (CPO) asal Indonesia dan Malaysia.

Saat ini harga TBS hanya Rp 250 perkilo. Terjun bebasnya harga TBS ini membuat pabrik—pabrik CPO membatasi pembelian sawit petani. Kondisi semakin diperparah dengan tidak adanya perlindungan pemerintah kepada petani sawit tersebut.

Akibatnya petani lebih memilih tidak memanen TBS dan membiarkan busuk di batang. Seperti yang dikatakan oleh Suardi (36), petani sawit warga desa Karya Bakti,kecamatan Kampar Kiri,kabupaten Kampar propinsi Riau.

Suardi sengaja membiarkan buah sawit busuk di batang daripada memanennya. Apalagi harga pupuk juga tinggi dan tidak sebanding dengan penjualan.

Saat ini tercatat 1,7 juta hektare perkebunan sawit di propinsi Riau dan 50 persen merupakan petani non plasma atau milik perorangan dengan total jumlahnya 126 ribu orang.

Tidak ada komentar: